Sabtu, 12 Maret 2016


Baru mulai nullis blog, udah bolos......

Yap, i'm so sorry (buat pembaca, kalo ada....hahaha)
Jadi begini, aku pagi jadi karyawan, malem jadi mahasiswa. Berhubung kegiatannya (yang keliatannya cuma dua tapi...) makan waktu jadi agak sulit untuk menyempatkan menulis. Tapi aku berusaha mengingat-ingat hal yang bisa aku syukuri supaya aku tetap bisa berbagi dan mengajak kalian untuk bersyukur.

Mungkin, saat aku nulis ini, pembaca aku belum banyak, tapi itu bukan halangan buat aku untuk ngeshare apapun itu berkat dari Tuhan yang patut aku syukuri. Aku bukan orang yang religius tapi aku berusaha melayani Tuhan dengan caraku, yaitu dengan mengajak orang untuk bersyukur, dengan cara ini aku juga belajar untuk bersyukur. 

Jadi satu minggu ini banyak banget yang aku lewatin, gak semuanya indah, yang ngebetein pun banyak. Tapi tugas aku disini harus mencari sebanyak-banyaknya hal yang bisa aku syukuri. 

Dimulai dari hari Senin yang lalu, hal yang bisaaku syukuri adalah bisa pulang dibawah jam 10 malam. Keluar kosan jam 7 pagi, sampe kosan bisa sebelum jam 10 adalah anugerah tersendiri, setidaknya Tuhan masih sediakan waktu buat kita beristirahat. Banyak banget orang yang punya masalah sama jam tidur mereka. Insomnia lah, banyak pikiran lah, apalah.....Kalo untuk ngerjain tugas sih, okelah.....bagi orang-orang berstatus ganda seperti gue, karyawan iya, mahasiswa iya, malam itu jadi waktu terbaik untuk ngerjain tugas walaupun sambil nguap-nguap gajelas. Kalo karena banyak pikiran, itu cuma karena kalian kurang percaya sama Tuhan. Apasih yang dipikirin?





                          

Nah, dari ayat diatas jelas banget kan, Tuhan mengingatkan kita untuk tidak khawatir. Loh tapi kan khawatir itu manusiawi? Iya sih, kalaupun iya kita khawatir, doakan apa yang jadi kekhawatiranmu. Yakin deh, Tuhan pasti nggak akan membiarkan hal buruk terjadi sama kamu. Kalaupun ada hal buruk yang terjadi, percaya aja, ada hal baik yang disediakan Tuhan untuk itu semua.

Selasa? Lupa sih detail kejadian hari itu, yang pasti di kelas Ilmu Sosial Budaya Dasar, ada cowo yang lumayan......yah boleh lah ya buat penyemangat kuliah :D

Rabu? Aku BERSYUKUR liburrrrrrrrrr. Libur sehari itu berasa sangat berharga ketika setiap hari berangkat jam 7 pulang jam 10 malem dan baru bisa istirahat jam 11.  

Kamis? BERSYUKUR banget dosen akuntansinya fresh. IYKWIM hahaha....

Jumat? Ini kayaknya hari paling apes. Ketika semua orang beramai-ramai update TGIF, gue cuma bisa megangin perut sambil berusaha menyelesaikan kerjaan sebelum jam istirahat, karena gue diare dan berniat ijin pulang setelah jam istirahat. Kenapa setelah jam istirahat, biar tetep dianggep masuk kerja dan gajinya nggak kepotong. Masih dalam kondisi mules, bela-belain ngampus karna ini masih minggu pertama kuliah setelah libur semester. Ternyata dosen Makro Ekonomi sama kayak dosen Mikro Ekonomi semester lalu. Killer. rasanya pengen bayar biaya Semester Pendek di depan, soalnya udah ketauan banget nilainya bakalan kayak apa. Disaat temen-temen gue yang lain bisa pulang setelah mata kuliah Makro Ekonomi, gue masih harus stuck di kampus karena ada mata kuliah Manajemen Pemasaran. Stuck bersama anak-anak pintar ber IPK diatas 3 yang entah kenapa kurang asik diajak bergaul. Pas mau pulang, sepatu baru nyemplung becekan karena abis ujan. Pulang gak ada yg jemput, mau naik taxi, taxinya susah. Setelah semua keapesan itu, akhirnya gue dapet taxi. SYUKURLAH.......(sopirnya lumayan pula) 
Tuhan selalu punya cara untuk memberi kejutan kok, meskipun kejutannya sederhana di hari yg melelahkan. 
Jadi  jangan lupa BERSYUKUR :D

Rabu, 02 Maret 2016

Mengingat Hari Kemarin


Selalu ada hal yang dapat disyukuri. Ini benar jika kita mau untuk fokus kepada apa yang kita miliki, seperti yang sudah pernah kutulis pada artikel sebelumnya. Kali ini aku masih akan bercerita soal pria baru itu. Setelah pertemuan terakhir itu, kami sudah jarang berkomunikasi, dia sibuk skripsi sedangkan aku sibuk menanti kabar darinya. Mungkin karena aku masih menganggap dia memiliki perasaan kepadaku hanya saja dia masih belum yakin dan ingin menyelesaikan pendidikannya dahulu. Satu minggu berlalu. Begitu berbeda dari minggu sebelumnya yang terasa lebih berwarna. Aku tetap BERSYUKUR karena aku menyadari betapa aku pernah begitu berbahagia kala itu. 

Kemarin aku sudah tidak tahan dengan keheningan. Aku lelah menerka-nerka apa yang dia rasakan dan pikirkan. Seandainya mengutarakan apa yang kita rasakan itu mudah, pasti tidak akan ada kesalahpahaman yang menjembatani hubungan antar manusia. Aku memberanikan diri bertanya kepadanya, apakah arti aku dalam hidupnya, sekedar teman kah atau dia menganggap aku sebagai wanita yang sedang dekat dengannya. Dia menganggap aku sebagai temannya. Dan setelah satu minggu yang menyenangkan itu, dia minta kami berteman seperti saat kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Masih bisakah aku bersyukur? Masih. Karena aku yakin Tuhan akan mengganti dia dengan yang lebih baik, maka aku BERSYUKUR Tuhan pernah mengenalkan aku dengan dia yang sudah sangat baik kepadaku walau hanya sekejap.

Mungkin Tuhan ingin membelikan aku boneka panda, tapi karna Tuhan tidak bisa muncul dalam wujud manusia lalu menghilang secara misterius maka Tuhan mengirimkan hadiahnya melalui si pria baru khusus untukku. Aku berterimakasih kepada Tuhan, karena caranya yang indah walaupun hanya satu minggu, setidaknya aku ingat aku pernah berbahagia. Aku BERSYUKUR.

God Bless :)

Bersyukur di Awal Maret


Awal bulan biasanya menjadi momen yang tepat untuk seseorang memulai harapan yang baru. Banyak sekali permohonan yang diutarakan oleh beberapa teman terutama dalam media sosial. "Hello March, please be good", "Hello March, surprise me" dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan serupa yang berseliweran di timeline. 

Tapi kita lupa bersyukur atas semua berkat yang sudah kita terima di bulan sebelumnya. Kita selalu bersemangat di bulan yang baru, minta ini dan itu tapi lupa berterimakasih atas segala permohonan yang telah dikabulkan di bulan sebelumnya. Padahal kunci kebahagiaan adalah bersyukur atas apa yang kita miliki, bukan fokus terhadap apa yang tidak kita miliki. Jika kita fokus terhadap apa yang tidak kita miliki itu tidak akan pernah ada habisnya.

Nah, hari ini aku akan bercerita tentang hal yang harus aku syukuri di awal bulan Maret ini. Awal bulan Februari lalu, aku bertemu dengan seorang pria. Dia menarik, manis, dan yang paling penting dia seiman. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang aktif dalam kegiatan gereja aku juga tidak kuliah di universitas katolik dan itu membuatku agak kesulitan bertemu dengan orang yang seiman. Kalau kalian pernah mendengar aplikasi TINDER, itu adalah semacam aplikasi untuk mencari teman. Aku sudah menggunakannya beberapa lama dan sebenarnya aku sudah berkenalan dengan pria ini sejak tahun lalu, meskipun aku lupa tepatnya pada bulan apa. 

Selama ini aku tidak pernah berani untuk bertemu langsung dengan orang-orang yang aku kenal melalui tinder. Entah kenapa kali ini aku memberanikan diri. Ya, aku sempat juga berbicara dengan mamaku dan menanyakan pendapatnya soal pria baru ini. Responnya positif dan mengizinkan aku untuk bertemu dengan dia. Tujuan kami di pertemuan pertama adalah gereja dan ini adalah pengalaman pertamaku pergi ke gereja berdua saja dengan seorang pria. Lalu aku mulai membayangkan betapa menyenangkannya jika memiliki pasangan seiman dan bisa pergi ke gereja bersama setiap minggunya. Saat itu aku BERSYUKUR mengenal dia.

Kami bertemu lagi di hari ulang tahunku, aku hanya mengharapkan kehadirannya. Itu lebih dari cukup. Dia menyenangkan. Tapi ternyata dia juga memberiku hadiah, boneka panda yang lebih besar dari milikku yang sebelumnya. Aku BERSYUKUR atas apa yang kudapatkan di hari ulang tahunku. Di hari itu lah juga pertama kalinya aku mengenalkan dia kepada mamaku dan beberapa temanku.

Pertemuan ketiga masih dalam rangka merayakan ulang tahunku, tapi kali ini dengan sahabat semasa SMP yang hampir 4 tahun tidak pernah bertemu. Kenapa dia ikut? Karena kedua sahabatku membawa kekasihnya sedangkan aku tidak punya dan aku meminta dia untuk menemani aku. Aku BERSYUKUR dia bersedia.

Pertemuan keempat dan terakhir (kurasa). Tepatnya tanggal 13 Februari 2016, tepat sehari sebelum valentine. Jika semua orang yang berpasangan berbahagia karena esok hari adalah hari kasih sayang, berbeda dengan aku. Seolah hari ini adalah hari penentuan apakah kesenanganku selama satu minggu terakhir ini akan terus berlanjut atau akan berhenti sampai disini. Kok bisa? Iya bisa....si pria baru bertanya apakah aku mau menjadi pacarnya atau tidak. Jujur saja, aku masih takut untuk membuka hati bagi seseorang, apalagi dia termasuk orang yang baru dalam hidupku. Pada pertemuan pertamaku dengannya, kami sempat membahas sedikit tentang masa lalu kami. Alasan dia putus dengan kekasihnya yang terdahulu sama dengan alasan aku berpisah dengan seseorang yang sangat memperngaruhi aku hingga aku menjadi seperti sekarang ini. Alasannya klasik dan mungkin sepele bagi kalian yang terbiasa LDR. Jarak. Kami juga membahas tentang masa depan, tujuan dan cita-cita kami. Aku ingin tetap tinggal di kota ini untuk beberapa alasan sedangkan dia siap berpindah kemana saja demi pekerjaannya. Bukannya aku manja dan tidak ingin ditinggal, aku akan menerima jika dia memilih pindah kalau itu yang terbaik untuk masa depannya. Aku hanya ingin tahu, apakah dia akan berusaha mempertahankan hubungan ataukah akan memutuskan hubungan kami sama seperti yang dia lakukan dulu. Ketika aku mempertanyakan tentang hal itu, dia tidak bisa menjawabnya, dia tetap menggenggam tanganku erat namun tak mengatakan apapun. Disitulah aku tahu, meskipun terlihat seperti apa yang aku inginkan, dia mungkin bukan orang yang tepat untukku. Aku
BERSYUKUR karena Tuhan masih melindungi hatiku dari patah hati yang lebih parah. Marah? Aku tidak akan pernah marah kepada orang yang jujur kepadaku, walau terkesan seperti mempermainkan tapi setidaknya dia tidak mengobral janji manis tentang masa depan yang ia sendiri tidak tahu akan bagaimana. 

Renungan kitab suci pada tanggal 1 Maret 2016 
Matius 18 : 21-35 
Ayat ini bercerita tentang seorang Raja yang memberikan pengampunan kepada hambanya yang tak mampu membayar hutang. Sama seperti Tuhan yang tidak lelah mengampuni kita walaupun kita sering berbuat dosa dan mengulanginya lagi. Dari pengalaman yang telah aku ceritakan, si pria baru akhirnya meminta maaf padaku karena pertanyaan yang dia berikan kepadaku di waktu yang tidak tepat dan dia sendiri tidak yakin dengan pertanyaannya. Aku BERSYUKUR aku adalah wanita yang cukup kuat untuk mengampuni walaupun ada perasaan kecewa. Tapi bukankah yang pergi akan diganti dengan yang lebih baik oleh Tuhan? Jika pria sebaik dia saja belum tepat untukku, bayangkan saja, pria hebat seperti apa yang telah Tuhan sediakan bagiku. Akhirnya aku belajar berharap kepada Tuhan bukan kepada manusia, karena berharap pada manusia hanya akan menggiring kita pada kekecewaan tapi Tuhan tidak pernah mengecewakan. 

God Bless :)