Awal bulan biasanya menjadi momen yang tepat untuk seseorang memulai harapan yang baru. Banyak sekali permohonan yang diutarakan oleh beberapa teman terutama dalam media sosial. "Hello March, please be good", "Hello March, surprise me" dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan serupa yang berseliweran di timeline.
Tapi kita lupa bersyukur atas semua berkat yang sudah kita terima di bulan sebelumnya. Kita selalu bersemangat di bulan yang baru, minta ini dan itu tapi lupa berterimakasih atas segala permohonan yang telah dikabulkan di bulan sebelumnya. Padahal kunci kebahagiaan adalah bersyukur atas apa yang kita miliki, bukan fokus terhadap apa yang tidak kita miliki. Jika kita fokus terhadap apa yang tidak kita miliki itu tidak akan pernah ada habisnya.
Nah, hari ini aku akan bercerita tentang hal yang harus aku syukuri di awal bulan Maret ini. Awal bulan Februari lalu, aku bertemu dengan seorang pria. Dia menarik, manis, dan yang paling penting dia seiman. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang aktif dalam kegiatan gereja aku juga tidak kuliah di universitas katolik dan itu membuatku agak kesulitan bertemu dengan orang yang seiman. Kalau kalian pernah mendengar aplikasi TINDER, itu adalah semacam aplikasi untuk mencari teman. Aku sudah menggunakannya beberapa lama dan sebenarnya aku sudah berkenalan dengan pria ini sejak tahun lalu, meskipun aku lupa tepatnya pada bulan apa.
Selama ini aku tidak pernah berani untuk bertemu langsung dengan orang-orang yang aku kenal melalui tinder. Entah kenapa kali ini aku memberanikan diri. Ya, aku sempat juga berbicara dengan mamaku dan menanyakan pendapatnya soal pria baru ini. Responnya positif dan mengizinkan aku untuk bertemu dengan dia. Tujuan kami di pertemuan pertama adalah gereja dan ini adalah pengalaman pertamaku pergi ke gereja berdua saja dengan seorang pria. Lalu aku mulai membayangkan betapa menyenangkannya jika memiliki pasangan seiman dan bisa pergi ke gereja bersama setiap minggunya. Saat itu aku BERSYUKUR mengenal dia.
Kami bertemu lagi di hari ulang tahunku, aku hanya mengharapkan kehadirannya. Itu lebih dari cukup. Dia menyenangkan. Tapi ternyata dia juga memberiku hadiah, boneka panda yang lebih besar dari milikku yang sebelumnya. Aku BERSYUKUR atas apa yang kudapatkan di hari ulang tahunku. Di hari itu lah juga pertama kalinya aku mengenalkan dia kepada mamaku dan beberapa temanku.
Pertemuan ketiga masih dalam rangka merayakan ulang tahunku, tapi kali ini dengan sahabat semasa SMP yang hampir 4 tahun tidak pernah bertemu. Kenapa dia ikut? Karena kedua sahabatku membawa kekasihnya sedangkan aku tidak punya dan aku meminta dia untuk menemani aku. Aku BERSYUKUR dia bersedia.
Pertemuan keempat dan terakhir (kurasa). Tepatnya tanggal 13 Februari 2016, tepat sehari sebelum valentine. Jika semua orang yang berpasangan berbahagia karena esok hari adalah hari kasih sayang, berbeda dengan aku. Seolah hari ini adalah hari penentuan apakah kesenanganku selama satu minggu terakhir ini akan terus berlanjut atau akan berhenti sampai disini. Kok bisa? Iya bisa....si pria baru bertanya apakah aku mau menjadi pacarnya atau tidak. Jujur saja, aku masih takut untuk membuka hati bagi seseorang, apalagi dia termasuk orang yang baru dalam hidupku. Pada pertemuan pertamaku dengannya, kami sempat membahas sedikit tentang masa lalu kami. Alasan dia putus dengan kekasihnya yang terdahulu sama dengan alasan aku berpisah dengan seseorang yang sangat memperngaruhi aku hingga aku menjadi seperti sekarang ini. Alasannya klasik dan mungkin sepele bagi kalian yang terbiasa LDR. Jarak. Kami juga membahas tentang masa depan, tujuan dan cita-cita kami. Aku ingin tetap tinggal di kota ini untuk beberapa alasan sedangkan dia siap berpindah kemana saja demi pekerjaannya. Bukannya aku manja dan tidak ingin ditinggal, aku akan menerima jika dia memilih pindah kalau itu yang terbaik untuk masa depannya. Aku hanya ingin tahu, apakah dia akan berusaha mempertahankan hubungan ataukah akan memutuskan hubungan kami sama seperti yang dia lakukan dulu. Ketika aku mempertanyakan tentang hal itu, dia tidak bisa menjawabnya, dia tetap menggenggam tanganku erat namun tak mengatakan apapun. Disitulah aku tahu, meskipun terlihat seperti apa yang aku inginkan, dia mungkin bukan orang yang tepat untukku. Aku
BERSYUKUR karena Tuhan masih melindungi hatiku dari patah hati yang lebih parah. Marah? Aku tidak akan pernah marah kepada orang yang jujur kepadaku, walau terkesan seperti mempermainkan tapi setidaknya dia tidak mengobral janji manis tentang masa depan yang ia sendiri tidak tahu akan bagaimana.
BERSYUKUR karena Tuhan masih melindungi hatiku dari patah hati yang lebih parah. Marah? Aku tidak akan pernah marah kepada orang yang jujur kepadaku, walau terkesan seperti mempermainkan tapi setidaknya dia tidak mengobral janji manis tentang masa depan yang ia sendiri tidak tahu akan bagaimana.
Renungan kitab suci pada tanggal 1 Maret 2016
Matius 18 : 21-35
Ayat ini bercerita tentang seorang Raja yang memberikan pengampunan kepada hambanya yang tak mampu membayar hutang. Sama seperti Tuhan yang tidak lelah mengampuni kita walaupun kita sering berbuat dosa dan mengulanginya lagi. Dari pengalaman yang telah aku ceritakan, si pria baru akhirnya meminta maaf padaku karena pertanyaan yang dia berikan kepadaku di waktu yang tidak tepat dan dia sendiri tidak yakin dengan pertanyaannya. Aku BERSYUKUR aku adalah wanita yang cukup kuat untuk mengampuni walaupun ada perasaan kecewa. Tapi bukankah yang pergi akan diganti dengan yang lebih baik oleh Tuhan? Jika pria sebaik dia saja belum tepat untukku, bayangkan saja, pria hebat seperti apa yang telah Tuhan sediakan bagiku. Akhirnya aku belajar berharap kepada Tuhan bukan kepada manusia, karena berharap pada manusia hanya akan menggiring kita pada kekecewaan tapi Tuhan tidak pernah mengecewakan.
God Bless :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar